Oleh: cermincommunity | Agustus 8, 2009

Serambi Rumahku

Sinar pagi menyapa dedaunan
Rerumputan menjalar merangkak
Tersandung di kerasnya pembatas
Dibalik pasir menggunung

Angin merambat, menyentuh setiap daun pada batang
Senada nyanyian alam yang berkicau menyahut matahari
Sehabis bulan menampakan diri
Ditengah dingin menyelimuti padang

Serambi rumahku kembali menyapa
Penat sesak hilang
Bersatu bersama harmoni alam
Membangunkan setiap asa.

_Tomi_

Oleh: cermincommunity | Agustus 8, 2009

Kamar Penyendiri

Terbatas di dinginnya dinding
Menguning disetiap sisi
Laba-laba mengikat sarangnya
Rayap mengikis
Seperti labirin, terjebak

Kesendirian mengunci
Memapah sayap-sayap sunyi
Bersandar
Diselimuti debu-debu usang
Mengenal batas langkah
Rebah pasrah memperkosa akal

_Tomi_

Oleh: cermincommunity | Agustus 8, 2009

DEBU

Aku berasal dari kumpulan-kumpulan debu mengendap
Mengambang diantara hitamnya pekat
Lepas ditiup kebohongan
Menjelma,

Pernah terperangkap api
Membara menyelimuti hati
Gubuk reot bertahan diri
Rubuh bersama hari

Sampaikan salam ku kepada matahari
Debu ini beranjak pergi.

_ToMi_

Oleh: cermincommunity | Juli 8, 2009

Sajak Emily Jane Bronte

Mild The Mist Upon The Hill

Mild the mist upon the hill
telling not of storms tomorrow;
no, the day has wept its fill,
spent its store of silent sorrow.

O, I’m gone back to the days of youth,
I am a child once more,
and neath my father’sheltering roof
and near the old hall door

I watch this cloudy evening fall
After a day of raining;
blue mists, sweet mists of summer pall
the horizon’s mountain chain.

The damp stands on the long green grass
as thick as morning’s tears,
and dreamy scents of fragrance pass
that breathe of other years.

***

Embun Di Atas Bukit

Embun di atas bukit
kabarkan esok badai tak datang;
namun, hari telah tangisi segalanya,
cucurkan kepedihan yang bungkam

o, aku kembali beranjak muda,
kembali jadi kanak lagi,
dan berteduh di bawah tegap dagu ayah
dekat sebuah pintu tua

ku saksikan awan petang bersingsut turun
setelah rimbun hujan;
embun biru, embun yang indah pada musim panas yang pucat
di cakrawala rentetan gunung-gunung

kabut selubungi hamparan hijau rerumputan
sepekat air mata sang pagi,
dan seharum wewangian alam mimpi
nafas tahun-tahun yang lain.

-Pinyu-

Oleh: cermincommunity | Juli 8, 2009

Ujung Untuk Tanya

Hempasan demi hempasan mendera
Tanpa ada satu kata ampun menyertai
Pasrah untuk memahami semua keadaan
Terlalu banyak deraan yang menghimpit
Perjalanan yang tak mungkin untuk dihentikan
Namun rintangan tak pernah hilang
Suara-suara dari barat-pun terus memanggil
Namun telinga tidak pernah ingin mendengar
Hanya hati yang berusaha keras berjuang
Langkah gontai tetap jadi andalan
Terkadang hanya jiwa yang terus bersikeras
Karna raga sudah tak mampu digerakkan
Para pemuja-pemuja harta ikut mendorong
Menjatuhkan kedalam jurang yang paling dalam
Jalan hidup yang tak pernah bisa tertebak
Membiarkan diri terpenjara Tanya
Ujung yang masih terasa semu
Yang selalu ingin di temukan
Meski Tanya selalu menggerogoti

-IjonK-

Oleh: cermincommunity | Juli 8, 2009

Kesatria Berkuda Hitam

Sebuah kata untuk kesatria berkuda hitam
Kata yang tidak hanya satu saja
Namun akan terus terangkai menjadi indah
Terimalah persembahan dari dasar hati ini
Yang tersanjung akan pesonamu
Membuat jiwa melambung tinggi diangkasa
Tanpa sayap yang membawa terbang
Semua akan selalu menjadi indah
Sampai akhir dari semua cerita hidup
Tak peduli ini hanya pengharapan semata
Semua akan terus terangkai indah
Percayalah akan kata yang terucap
Semua takkan menjadi dusta semata
Bumi dan langit telah memahaminya
Cobalah untuk mengerti rasa yang ada
Larutkan hati dalam kisah yang telah terukir
Kisah untuk masa depan yang gemilang
Di bawah sinar bulan pada malam hari
Atau dibawah teriknya matahari siang
Demi keagungan cinta didasar hati
Telah mempersembahkan pada hidup
Akan arti dari yang pernah terjadi
Ingat akan ketulusan yang mendasari
Bukan kemunafikan yang dianut
Angkasa yang tak berujung sama sekali
Menyadarkan semua ketulusan ini
Mungkin bibir bisa berucap dusta
Tapi ketahuilah hati yang susah diingkari
Misteri telah menyelimuti semuanya
Dan masalah telah tercipta menusuk sanubari
Namun kata yang terangkai akan terus terangkai
Menjadikan rangkaian itu bermakna dalam
Yang akan dipahami jika bisa untuk tulus
Dan memahami setiap rangkaian kata
Seperti bumi dan langit yang telah memahaminya.

-IjonK-

Oleh: cermincommunity | Juni 8, 2009

Anoreksia Kritik

Oleh: Condra Antoni*

Dalam ilmu kesehatan, anoreksia adalah kelainan psikis yang diderita seseorang berupa kekurangan nafsu makan meski sebenarnya lapar dan berselera terhadap makanan. Kalaupun mereka makan, maka mereka akan memuntahkan kembali makanan tersebut.

Pembahasan tentang anoreksia dalam kehidupan pernah dilaukan oleh Noah St John dalam bukunya Permitted To Succeed (Izin Untuk Sukses, Interaksara, 2005). Dalam buku tersebut Noah membahas tentang apa yang disebut dengan anoreksia sukses. Ia membahas tentang bagaimana seseorang tidak bisa sukses karena dia sendiri yang menghambat dirinya untuk mencapai kesuksesan dengan mengaktifkan impuls-impuls negatif sehubungan dengan penegasian self-esteem (menghargai ketidakterbatasan kemampuan diri sendiri).

Dalam tulisan ini, penulis mencoba berurai papar tentang anoreksia kritik yang menjangkiti keindonesiaan kita. Baca Lanjutannya…

Oleh: cermincommunity | Juni 8, 2009

Berkunjung ke Negeri Menhir

¬Fatris Mohammad Faiz

Negeri itu terletak lebih dari 40 kilometer dari Plasa Payakumbuh yang ramai. 40 kilometer, tidaklah jarak tempuh yang mudah untuk sampai ke negeri yang dililit gunung itu. Setelah anda sampai di Pasar Limbanang, berbeloklah ke kanan: tanjakan-tanjakan terjal menanti, penurunan rumit, tikungan patah siku yang dibarengi aspal pecah sepanjang puluhan kilometer. “Kalau belum pernah ke Maek, sedapat mungkin berhati-hati sekali. Sopir luar kota pun belum berarti di sini,” seorang mengingatkan ketika Baca Lanjutannya…

Oleh: cermincommunity | Juni 8, 2009

KABAR BURUK DARI SURGA


(Syair Cinta Rabiah Al-Adawiah)

Fatris Moh. Faiz*

Ia lahir dan hidup di Basrah Irak sekitar tahun 713 M ketika dinasti Umayyah berkausa di seluruh jazirah Arab, dan penjara di Basrah belum dijaga oleh tentara Amerika—tentu saja. Ia lahir dari keluarga yang sama sekali tidak mapan. Dan ketakmapanan itulah yang kemudian membuatnya jadi budak selama bertahun-tahun. Setelah bebas, ia menekuni musik dan jadilah ia pemusik yang mendendangkan lagu-lagu. Lalu, tak berapa lama ketika itu musik dianggap subhat oleh beberapa ulama. Ia, sebagaimana musik, dikecam. Karena merasa dunia sekelilingnya penuh dengan “kecaman”, ia pun mulai mencari cinta Tuhan. Tak hanya dalam musik musik, bahkan dalam “pertapaan”.

Ia Rabi’ah al-Adawiyah, perempuan yang kemudian dianggap sebagai figur dalam sastra sufistik dan kerap dipertentangkan. Bahkan hingga saat ini. Sajaknya, atau tepatnya syair, umumnya hanya diperuntukkan untuk sang Tuhan yang bagi Rabiah adalah kekasih. Bagi mereka yang menyembah Tuhan dengan penuh rasa takut (akan nereka yang penuh api) atau penuh pengharapan (akan surga yang di dalamnya terdapat bidadari jelita, sungai susu), jelas tak akan menerima apa yang dilontarkan Rabi’ah, perempuan yang memilih ‘suci’ seumur hidup itu. Ia, tentunya, memilih alur lain untuk menemukan Tuhan. Alur yang berbeda.

Al kisah, suatu hari ia membawa air di tangan kiri dan obor di tangan kanan. Seseorang bertanya: Kemana engkau akan pergi Rabi’ah?

Ia menjawab:
Saya mau ke langit untuk membakar surga
dan memadamkan api neraka
Agar semuanya tak menjadi sebab manusia
Menyembah-Nya
Sekiranya Allah tak menjadi pahala dan siksa
Masih adakah di antara mereka yang menyembah-Nya?

Membaca Rabiah, seakan menyentakkan kita bahwa Islam lahir dan hadir di muka bumi ini bukan karena kedua hal itu: surga ataukah neraka. Tetapi atas nama cinta, setidaknya begitu kata Rabi’ah.

Namun barangkali Rabi’ah keliru, orang tak (lagi) beribadah kepada sang Tuhan karena landasan cinta seperti apa yang umumnya dianjurkan para sufi. Manusia telah berperang dan saling bunuh untuk surga dan neraka itu. Untuk dua kata yang kekal itu, mereka mengutip Quran. Setidaknya begitu yang disebut Fitna, film yang dilarang peredarannya di Indonesia saat ini. Film itu membelalakkan mata kita, dan juga menyentuh kita dengan amarah. “Tidak semua orang Islam seperti itu, itu hanya sebagian kecil,” kata teman saya setelah menontonnya.

Rabiah memang tidak ada ketika Theo Van Gogh meregang nyawa di depan Muhammad Bouyeri. Sang seniman itu dibunuh karena dianggap telah melecehkan Islam di Belanda. Rabi’ah juga tak tak mengenal (atau mungkin dikenal) oleh Farag Fouda. Menurut catatan Tempo, kelompok yang menamakan diri Jamaah Islamiah yang pada tanggal 8 Juni 1992 telah membunuh Farag Fouda di Madinath al-Nasr, Kairo. Fouda dituduh murtad atas tulisannya al-Haqiah al-Ghaybah (Kebenaran yang Telah Hilang), dan karena itu ia layak dibunuh. Dan Rabiah juga tidak ada ketika bom Bali meledak, dan tempat maksiat itu hancur bersama turis yang berpakaian seronok tengah menikmati liburan.Tentu tidak.

Saat sekarang, ketika iman seakan jadi ancaman di tengah kita untuk membuat garis batas antara beriman dan kafir, kita seakan dibutuhkan untuk membaca syair Rabi’ah. Baca Lanjutannya…

Oleh: cermincommunity | Mei 30, 2009

Rajawali

Rajawali, terbang di dalam ruhku,
Bercerita tentang,
Burung-burung,
Yang ia pimpin,
Dengan 7 para jenderal,
Dan burung pipit,
Mencicit,
Sendiri, sepi,

LPK, 25 april 2009

-Nia-

Tulisan Sebelumnya »

Kategori